Balikkan arah senjatanya

Di jaman sekolah dulu, saya mempunyai 1 sahabat, mempunyai jiwa yg sama, selera musik yg sama & kenakalan yg sama. Saat itu tak ada yg lebih keren dari kami berdua di sekolah, karena sekolahku adalah sekolah swasta, didalamnya selain pelacur dan bandar narkoba ternyata banyak juga premam bayaran jika sekolah lain butuh bantuan untuk tawuran tapi bagi kami berdua tak ada yg lebih menarik selain menjadi punkrock di lingkungan sekolah, menyanyikan rancid tiap hari di kantin & menggantung sepatu vans di jendela kelas saat mabuk.

Setelah beberapa waktu kemudian kami duduk berdua, berencana merubah hidup yg kami jalani selama ini, setelah ayah dari temanku meninggal maka dia memilih untuk melupakan apa yang kita lakukan di masa lalu, mengubur semua barang-barang yang dulu di belinya sangat mahal & mengingatkanku akan kedewasaan yg akan kami hadapi di masa akan datang, sebagai sahabat saya tdk bisa melarang & tdk bisa juga membiarkan teman terbaik dalam hidupku meninggalkanku dalam posisi tidur menghadap langit, saat itu kami terpisah, menjalani jalan yg kita pilih bersama..

Saling menanyakan kabar di friendster lalu kemudian kami berteman di facebook setelah beberapa saat dia pun hilang, tak ada kabar setelah beberapa tahun kemudian, saya hanya bisa mengenang apa yg dulu kita jalani bersama, menuliskan namanya di setiap tulisanku, & masih tetap menganggapnya teman dekatku walaupun beberapa kali reuni SMA dia tak hadir. Tiap malam saya merenungkan, hidup ini sudah ada takarannya, sudah ada jalannya, sisa kita mencarinya dan berusaha agar tdk terjatuh di tengah jalan..

Kami terpisah sejak 15 atau 20 tahun yang lalu. Dan kemarin istri temanku datang, meminta waktuku dan memaksaku untuk menceritakan apa yg kita hadapi sewaktu sekolah dulu, saya tdk kenal dengan istrinya, kami tdk pernah bertemu tetapi istri temanku sangat mengenalku sangat jauh, ternyata suaminya selalu menceritakan kisah tentang saya, jauh-jauh datang ke makassar hanya untuk bercerita denganku, obrolan ini sangat sempurna saat kopi & teh pesanan kami tersedia di atas meja, dengan tarikan 1 nafas saya pun bercerita soal kami berdua, istri temanku tersenyum saat saya berkata "KAMI BERTEMAN BAGAIKAN MALAIKAT & SETAN, MENGINGATKAN SATU SAMA LAIN, MENGHIDUPI SATU SAMA LAIN & DUNIA MENJADI SURAM SAAT KAMI TAK SEJALAN LAGI" menangkap kalimat itu akhirnya istri temanku berkata " DIA SUDAH BERADA DI JALAN ALLAH SWT, SEMENJAK KALIAN TERPISAH, DISITULAH KAMI BERTEMU DI SATU PESANTREN, DIA SELALU MENCERITAKAN TENTANGMU, DIA BANGGA PADAMU & SEKARANG DIA BERADA DI TANAH SUCI UNTUK MELAKSANAKAN HAJI, KEMARIN DIA BERMIMPI MELIHATMU DI BAITULLAH, DIA MENELPONKU UNTUK MENEMUIMU, MENCARIMU DIMANAPUN KAU BERADA, DIA MENITIPKAN PESAN "RASA RINDU KE SAHABATNYA LEBIH BESAR DARI RASA RINDUNYA KE ISTRINYA" SAYA CEMBURU, SANGAT CEMBURU TETAPI MENDENGAR KISAH KALIAN YANG KAU CERITAKAN, CEMBURUKU HILANG, DAN DIA MENITIPKAN RINDUNYA KESAYA UNTUK DI SAMPAIKAN KE KAMU, TERIMA KASIH TELAH MENGAJARKAN ARTI KEHIDUPAN BUAT SUAMIKU, TANPAMU DIA TAK AKAN SEPERTI INI...

Tiba-tiba menetes air mata dari wajah istrinya, saya hanya menundukkan kepala, kesimpulannya adalah seberapa lamapun kalian terpisah oleh sahabat kalian & seberapa derajatnya pun kehidupan kalian berubah bukan alasan untuk tidak saling ingat, bukan alasan untuk saling menjauh & menjatuhkan karena sahabat adalah mereka yang merekam masalalumu untuk kalian pelajari di masa akan datang...
I don't need fake friend

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KALAU HIDUP ADALAH PERANG, BOLEHKAH SAYA MENONTON SAJA ?

DON'T CRY FOR ME ARGENTINA

DISCERN MIDLE