8 Fakta soal Bikini Kill, Band Punk Feminis yang Baru Saja Reunian
Sudah 22 tahun sejak Bikini Kill terakhir tampil bersama. Kabar baiknya, kini mereka kembali.
Bikini Kill bukanlah band cewek biasa. Pada tahun 1990-an, mereka jadi band yang lantang menyuarakan hak-hak perempuan. Mulai dari soal reproduksi, ketimpangan gaji yang diterima cewek, pemerkosaan, sampai isu kekerasan.
Untuk menyambut kembali reunian mereka, berikut rangkuman delapan hal yang perlu kamu ketahui soal Bikini Kill seperti dilansir NME.
1. Mereka membuat musik lebih inklusif untuk cewek
Bikini Kill memang bukan band punk pertama yang punya kepedulian soal cewek. Ada X-Ray Spex, The Slits, The Runaways, Blondie (Debbie Harry) dan masih banyak lagi. Tetapi Bikini Kill begitu vokal tentang pandangan mereka: perlunya ruang bagi cewek untuk dilibatkan serta diberi kesempatan yang sama untuk tampil di masyarakat.
2. Banyak haters
Mereka mungkin jadi salah satu band feminis yang paling dihormati dan berpengaruh sekarang, tetapi pada tahun 1990-an, ada banyak yang membenci mereka.
Banyak yang salah kaprah dan menggambarkan Bikini Kill sebagai band yang membenci laki-laki. Enggak jarang pula mereka diteriaki cemoohan dan menerima pelecehan saat manggung. Dari segerombolan Skinhead yang membawa rantai dan melemparkannya ke Bikini Kill hingga menerima ancaman akan dibunuh juga pernah dialami.
3. Terkenal dengan slogan "Girl Power"
Sebelum Spice Girls menyerukan "Girl Power" dalam ranah kultur pop mainstream di pertengahan 1990-an, Bikini Kill terlebih dulu menggunakan istilah tersebut.
Terpengaruh dari slogan "Black Power", mereka kemudian menggunakannya sebagai nama zine yang mereka buat pada awal 1991.
4. Menciptakan ruang aman untuk moshing
Ungkapan "girls to the front" (cewek-cewek ke depan) ini kerap diucap Kathleen Hanna di setiap gig Bikini Kill. Mereka sengaja membuat ruang aman buat para cewek agar bisa ikut moshing tanpa adanya gangguan dari 'tangan-tangan iseng' yang berujung ke pelecehan.
5. Membentuk support group untuk penyintas
Di atas panggung, sang vokalis, Kathleen Hanna bercerita tentang pelecehan seksual yang dideritanya dan pengalamannya soal cat calling. Setelah itu, para penggemar juga berbagi pengalaman buruk serupa dan Hanna menegaskan betapa pentingnya untuk speak up dan mendengar cerita soal pelecehan ini.
Melalui riot grrrl movement, Bikini Kill juga memberi para penyintas kesempatan untuk berkumpul dan membentuk support group. Enggak hanya lewat musik dan seni, tetapi juga pendampingan agar mereka mampu melalui trauma.
6. Personelnya enggak cuma cewek
Bikini Kill memang bisa dibilang band feminis. Tapi, salah satu personel band ini ada juga, lho, yang cowok.
Line-up asli band ini melibatkan seorang cowok bernama Billy Karren sebagai gitaris. Sayangnya, Billy enggak akan tampil di reuni Bikini Kill. Posisi dia akan digantikan oleh Erica Dawn Lyle
7. Cukup berpengaruh
Pengaruh Bikini Kill dapat dilihat sejak awal kemunculan mereka pada 1990. Mereka secara aktif menginspirasi orang-orang seperti Kim Gordon, Brody Dalle, Sleater-Kinney, Karen O, Pussy Riot, dan masih banyak lagi.
Berita tentang reuni mereka ternyata juga mendapat sambutan antusias dari aktris sekaligus penyanyi, Brie Larson. Brie diketahui juga dipercaya memerankan Carole Danvers dalam film Captain Marvel.
8. Tampil dengan menggunakan bra
Lagu-lagu, zine, dan obrolan di atas panggung mereka memang berbicara soal feminisme dan hak-hak perempuan. Tetapi itu bukan satu-satunya cara mereka melawan pandangan masyarakat yang opresif terhadap perempuan.
Kadang, Hanna akan tampil hanya dengan menggunakan bra. Sikapnya itu ditunjukkan sebagai protes bahwa cewek juga bisa tampil sesuai kehendak mereka dan tak ada satu orang pun yang berhak mengatur bagaimana seorang perempuan harus berperilaku.
Komentar
Posting Komentar