SATU LAGI YANG TERJATUH

Belasan tahun yang lalu, dia adalah partner in drugs terbaik bagiku. Waktu itu rasanya seperti tak ada kenyataan lain yang lebih menyenangkan, selain berteman dengan seseorang yang selalu memegang uang 50 ribu setiap pagi dan 50 ribu lagi setiap sore (di tahun 2003 kau bisa berpesta pora hanya dengan uang 80 -100 ribu), diluar 500 ribu di setiap awal minggu. Dan baginya, tak ada pertemanan yang lebih indah selain dengan seseorang yang selalu punya lebih dari satu bandar amphetamine yang bisa diketuk pintunya 24 jam sehari.

Kami berdua sering berdiskusi tentang buku pada malam hari, dan berusaha keras untuk menempelkan wajah di aspal saat pagi. Suatu hari aku melihat langit tidak berwarna biru, dan ia menenangkan perasaanku. Lain hari, ia tak bisa turun dari atap rumahnya sendiri, dan aku melempar anjingnya ke atas untuk menemani.

Kami berteman melewati apa yang narkotik bisa berikan pada badan manusia. Melihat yang tak ada, juga tak melihat yang ada. Hidup tanpa kemungkinan buruk. Setengah gram dalam setengah jam, dua sesi setiap malam. Dan sepiring besar nasi goreng tuna yang selalu susah untuk ditelan.

Setelah ia mulai merasa itu semua sebagai rutinitas yang menyiksa, akhirnya ia berhenti. Dan aku terus mencari sampai hampir setahun kemudian, tak kuat lagi. Satu orang berakhir menjadi sarjana, satu lagi drop out dengan sengaja. Berakhirnya suatu masa bisa ditandai dengan meregangnya jarak antara manusia-manusianya. Begitupun yang terjadi kemudian pada kami berdua.

Dan kemarin sore adiknya datang. Mengajak makan donat dan minum coklat panas. Aku meracik sebuah kombinasi asin manis panas dingin yang sempurna, meletakkan semua di atas meja, dan tepat menatap mata adik temanku itu saat dia berkata,

"dia lagi sekarat. ada cairan di otak bagian motoriknya", dan itu cuma awal dari deretan penyakit yang selama ini menggerogotinya tanpa disadari.

Selain film porno jepang, hanya berita ini yang bisa menghentikan selera makanku.

Sebenarnya aku tak perlu tahu seberapa berarti angka 15% bagi kemungkinan hidupnya. Dan bagaimana infus tak mau lagi diterima oleh darahnya. Juga apa yang dipikirkan keluarganya saat dokter di rumah sakit menganjurkan agar ia pulang untuk menghadapi saat-saat terakhirnya. Bahkan aku tak perlu tahu bila dalam nama-nama orang yang ia bisikkan pada adiknya, namaku adalah salah satu diantara yang ingin ia temui. Aku hanya sempat tersenyum saat diceritakan tentang betapa ia tak mau mendengar suara orang membaca al quran di dekatnya.

Akhirnya entah karena bosan, takut, atau karena warna warni makanan di depanku yang mulai terlihat mengerikan, adik temanku terpaksa tertawa pahit karena menangkap maksud kata-kataku,

"nanti saya kesana.."

Lalu aku menghabiskan hari mendekam di tempat tidur, memikirkan kapan undian besar ini akan jatuh padaku. Hidup memang penuh petualangan, namun konsekuensi tak akan berhenti hanya karena kita punya sedikit keberuntungan.

Aku tak mau mati karena sesuatu yang sudah tak kulakukan lagi. Kemudian aku tertidur, dan bermimpi memakaikan topi pada matahari.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KALAU HIDUP ADALAH PERANG, BOLEHKAH SAYA MENONTON SAJA ?

DON'T CRY FOR ME ARGENTINA

DISCERN MIDLE